Berita PMI DKI Jakarta Monitoring Lokalatih Pengendalian KLB dan SBM dalam Mosquito-Borne Diseases Prevention Program
10/07/2026
JAKARTA - PMI Provinsi DKI Jakarta melaksanakan Monitoring Lokalatih Pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) dalam Mosquito-Borne Diseases Prevention Program (MDPP) bagi wilayah Jakarta Selatan di Hotel Arimbi, Bogor, pada 7–10 Juli 2026.
Lokalatih ini diikuti oleh 25 peserta yang terdiri dari 10 kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) Kelurahan Pejaten Timur, 10 kader Jumantik Kelurahan Pengadegan, serta 5 relawan PMI Kota Jakarta Selatan. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Lurah Pejaten Timur Supriyanto, Lurah Pengadegan Hifzillah, Ketua PMI Kota Jakarta Selatan Mundari, serta Ketua Bidang Rumah Sakit dan Pelayanan Kesehatan Sosial PMI Provinsi DKI Jakarta, dr. Sibroh Malisi.
Ketua PMI Kota Jakarta Selatan, Mundari, mengatakan bahwa lokalatih ini merupakan bagian dari komitmen PMI dalam memperkuat kapasitas kader di tingkat masyarakat. Menurutnya, kader Jumantik dan relawan PMI memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat mengenai pencegahan penyakit sekaligus mendukung sistem kewaspadaan dini terhadap potensi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Selama lokalatih berlangsung, peserta mendapatkan penguatan materi mengenai Pengendalian KLB dan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM), berdiskusi mengenai potensi penyakit tular nyamuk di wilayah Jakarta Selatan, serta menyusun langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan bersama masyarakat.
Pada sesi penguatan materi, Ketua Bidang Rumah Sakit dan Pelayanan Kesehatan Sosial PMI DKI Jakarta, dr. Sibroh Malisi, mengajak seluruh peserta menjadi agent of change (agen perubahan) yang mampu meneruskan pengetahuan kepada masyarakat setelah kembali ke wilayah masing-masing.
"Apa yang kita dapat pada hari ini, ilmu di sini insyaallah bisa kita tularkan. Bukan hanya kepada keluarga, tetapi juga kepada tetangga. Tujuannya agar KLB jangan sampai terjadi di keluarga maupun lingkungan kita," ujar dr. Sibroh.
Ia juga mengingatkan pentingnya pemahaman yang benar mengenai demam berdarah dengue (DBD). Menurutnya, demam bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala yang harus diwaspadai, terutama apabila berlangsung lebih dari tiga hari. Selain itu, perubahan karakteristik virus menyebabkan penderita DBD tidak selalu menunjukkan tanda perdarahan di bawah kulit berupa bintik-bintik merah (petekie), sehingga masyarakat perlu lebih waspada terhadap gejala lain dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Ia menambahkan, pencegahan penyakit tular nyamuk tidak cukup hanya mengandalkan fogging, tetapi harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin.
"Yang paling utama adalah bagaimana gerakan-gerakan ini bisa kita tularkan supaya pola hidup sehat berjalan. Kalau diri kita, keluarga, lingkungan, dan masyarakat menjaga kebersihan, insyaallah kita lebih aman. Fogging saja tidak cukup karena nyamuk bisa berpindah tempat. Yang dibutuhkan adalah kekompakan masyarakat dalam menjaga lingkungan tetap bersih," jelasnya.
Sementara itu, Lurah Pejaten Timur, Supriyanto, menyambut baik pelaksanaan lokalatih tersebut. Ia berharap para kader Jumantik dapat menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah berkembangnya penyakit yang ditularkan melalui nyamuk.
Hal senada disampaikan Lurah Pengadegan, Hifzillah. Menurutnya, upaya pencegahan penyakit tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, PMI, kader Jumantik, relawan, dan masyarakat agar langkah-langkah pencegahan dapat berjalan secara efektif.
Melalui lokalatih ini, diharapkan peserta mampu mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh serta menjadi penggerak Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM). Dengan kolaborasi antara PMI, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat diharapkan semakin memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat penyakit yang ditularkan melalui nyamuk.(RR)
Lokalatih ini diikuti oleh 25 peserta yang terdiri dari 10 kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) Kelurahan Pejaten Timur, 10 kader Jumantik Kelurahan Pengadegan, serta 5 relawan PMI Kota Jakarta Selatan. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Lurah Pejaten Timur Supriyanto, Lurah Pengadegan Hifzillah, Ketua PMI Kota Jakarta Selatan Mundari, serta Ketua Bidang Rumah Sakit dan Pelayanan Kesehatan Sosial PMI Provinsi DKI Jakarta, dr. Sibroh Malisi.
Ketua PMI Kota Jakarta Selatan, Mundari, mengatakan bahwa lokalatih ini merupakan bagian dari komitmen PMI dalam memperkuat kapasitas kader di tingkat masyarakat. Menurutnya, kader Jumantik dan relawan PMI memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat mengenai pencegahan penyakit sekaligus mendukung sistem kewaspadaan dini terhadap potensi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Selama lokalatih berlangsung, peserta mendapatkan penguatan materi mengenai Pengendalian KLB dan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM), berdiskusi mengenai potensi penyakit tular nyamuk di wilayah Jakarta Selatan, serta menyusun langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan bersama masyarakat.
Pada sesi penguatan materi, Ketua Bidang Rumah Sakit dan Pelayanan Kesehatan Sosial PMI DKI Jakarta, dr. Sibroh Malisi, mengajak seluruh peserta menjadi agent of change (agen perubahan) yang mampu meneruskan pengetahuan kepada masyarakat setelah kembali ke wilayah masing-masing.
"Apa yang kita dapat pada hari ini, ilmu di sini insyaallah bisa kita tularkan. Bukan hanya kepada keluarga, tetapi juga kepada tetangga. Tujuannya agar KLB jangan sampai terjadi di keluarga maupun lingkungan kita," ujar dr. Sibroh.
Ia juga mengingatkan pentingnya pemahaman yang benar mengenai demam berdarah dengue (DBD). Menurutnya, demam bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala yang harus diwaspadai, terutama apabila berlangsung lebih dari tiga hari. Selain itu, perubahan karakteristik virus menyebabkan penderita DBD tidak selalu menunjukkan tanda perdarahan di bawah kulit berupa bintik-bintik merah (petekie), sehingga masyarakat perlu lebih waspada terhadap gejala lain dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Ia menambahkan, pencegahan penyakit tular nyamuk tidak cukup hanya mengandalkan fogging, tetapi harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin.
"Yang paling utama adalah bagaimana gerakan-gerakan ini bisa kita tularkan supaya pola hidup sehat berjalan. Kalau diri kita, keluarga, lingkungan, dan masyarakat menjaga kebersihan, insyaallah kita lebih aman. Fogging saja tidak cukup karena nyamuk bisa berpindah tempat. Yang dibutuhkan adalah kekompakan masyarakat dalam menjaga lingkungan tetap bersih," jelasnya.
Sementara itu, Lurah Pejaten Timur, Supriyanto, menyambut baik pelaksanaan lokalatih tersebut. Ia berharap para kader Jumantik dapat menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah berkembangnya penyakit yang ditularkan melalui nyamuk.
Hal senada disampaikan Lurah Pengadegan, Hifzillah. Menurutnya, upaya pencegahan penyakit tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, PMI, kader Jumantik, relawan, dan masyarakat agar langkah-langkah pencegahan dapat berjalan secara efektif.
Melalui lokalatih ini, diharapkan peserta mampu mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh serta menjadi penggerak Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM). Dengan kolaborasi antara PMI, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat diharapkan semakin memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat penyakit yang ditularkan melalui nyamuk.(RR)