Berita Dari Ruang Kelas Menuju Aksi Kemanusiaan, PMI Jakarta Utara Gelar PRAYA 2026
26/07/2026
Jakarta Utara, 25 Juli 2026 — Tidak semua proses lahirnya seorang relawan dimulai dari lokasi bencana. Sebagian justru berawal dari sebuah ruang kelas, ketika rasa ingin tahu bertemu dengan kepedulian, pengetahuan bertemu dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan semangat belajar tumbuh menjadi kesiapan untuk mengabdi.
Suasana tersebut terasa di Aula Markas PMI Kota Jakarta Utara saat puluhan remaja mengikuti Program Pendidikan Remaja Sebaya (PRAYA) Tahun 2026. Program ini mempertemukan anggota PMR Wira tingkat SMA/sederajat dari berbagai sekolah di Jakarta Utara dengan calon anggota Korps Sukarela (KSR) Unit Markas PMI Kota Jakarta Utara Angkatan Tahun 2026 dalam satu ruang belajar, satu semangat, dan satu tujuan, yakni membentuk relawan muda yang berkarakter, berpengetahuan, serta mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Kegiatan PRAYA 2026 sekaligus menjadi salah satu wujud nyata pemanfaatan hasil Bulan Dana PMI yang kembali diberikan kepada masyarakat dalam bentuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Melalui dukungan masyarakat yang telah berpartisipasi dalam Bulan Dana PMI, berbagai program pembinaan, pendidikan, dan pelatihan kepalangmerahan dapat terus dilaksanakan.
Dukungan tersebut turut memperkuat kapasitas anggota PMR di sekolah-sekolah se-Jakarta Utara sebagai investasi jangka panjang dalam membangun generasi muda yang peduli, tangguh, dan siap menjadi pelopor kemanusiaan.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Bidang Organisasi dan Relawan PMI Kota Jakarta Utara, Troy Aldi Pratama, didampingi Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Erna Cahyani, Kepala Markas Umar, serta Kepala Seksi PMR dan Relawan Riki Rusli, bersama para narasumber dan fasilitator yang mendampingi seluruh rangkaian pembelajaran.
Dalam sambutannya, Troy menegaskan bahwa PRAYA tidak dirancang sebagai pelatihan yang berhenti pada penyampaian materi semata. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian dari strategi pembinaan relawan muda PMI yang berkelanjutan dengan mempertemukan PMR Wira dan calon anggota KSR dalam satu proses pembelajaran.
“PMI ingin generasi muda memahami bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang memiliki keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kepedulian, keberanian mengambil peran, serta kemampuan menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan kepada masyarakat. PRAYA juga menjadi jembatan pembinaan agar semangat pengabdian seorang anggota PMR dapat terus berlanjut hingga menjadi relawan KSR,” ungkap Troy.
Melalui pendekatan tersebut, PMI Kota Jakarta Utara berupaya membangun kesinambungan pembinaan relawan. Semangat kemanusiaan diharapkan tidak berhenti ketika seorang anggota PMR menyelesaikan pendidikan di sekolah, tetapi dapat terus berkembang menjadi pengabdian yang lebih luas di tengah masyarakat melalui jenjang kerelawanan PMI.
Dalam pelaksanaannya, PRAYA 2026 mengangkat sejumlah tema yang dekat dengan kehidupan remaja, mulai dari komunikasi sebaya, promosi kesehatan, teknik berbicara di depan publik, implementasi Tri Bakti PMR, hingga pemahaman mengenai populasi rentan dan HIV/AIDS.
Materi disampaikan secara bertahap agar peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu memahami cara menyampaikan informasi kesehatan secara tepat sekaligus membangun sikap yang menghormati martabat setiap manusia.
Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah pembahasan mengenai kelompok rentan dalam situasi bencana. Melalui studi kasus, diskusi interaktif, dan refleksi bersama, peserta diajak memahami bahwa seorang relawan PMI memberikan pertolongan berdasarkan tingkat kebutuhan dan kerentanan seseorang, bukan berdasarkan latar belakang, agama, suku, status sosial, maupun kondisi kesehatan.
Nilai tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi nyata dari Prinsip-Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, yang menjadi landasan bagi setiap insan kepalangmerahan dalam menjalankan tugas kemanusiaan.
Selain proses pembelajaran, peserta juga mengikuti Pre-Test dan Post-Test sebagai bagian dari evaluasi peningkatan kompetensi. Lima peserta terbaik mendapatkan apresiasi berupa First Aid Kit sebagai bentuk penghargaan sekaligus simbol bahwa keterampilan pertolongan pertama perlu terus diasah dan dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Bagi calon anggota KSR Unit Markas PMI Kota Jakarta Utara Angkatan Tahun 2026, keikutsertaan dalam PRAYA juga menjadi bagian dari rangkaian Satuan Pendidikan dan Pelatihan (SATDIK) sebagai proses penguatan kapasitas sebelum mengikuti pelantikan pada Peringatan Hari Relawan Internasional, 26 Desember 2026.
Dengan demikian, proses pembentukan relawan tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga memperkuat kapasitas komunikasi, kepemimpinan, pendidikan sebaya, serta internalisasi nilai-nilai kemanusiaan.
PRAYA 2026 menjadi bukti bahwa setiap dukungan masyarakat melalui Bulan Dana PMI terus diwujudkan dalam berbagai program yang memberikan manfaat langsung bagi publik. Sebab, investasi terbesar organisasi kemanusiaan bukan semata-mata pada sarana dan prasarana, melainkan pada lahirnya generasi muda yang memiliki pengetahuan, karakter, empati, dan keberanian untuk menolong sesama.
Dari ruang kelas inilah, masa depan relawan PMI dipersiapkan. Dari pengetahuan tumbuh kepedulian, dari kepedulian lahir keberanian untuk beraksi, dan dari semangat kemanusiaan tumbuh generasi relawan yang siap hadir untuk sesama.(dayat)
Suasana tersebut terasa di Aula Markas PMI Kota Jakarta Utara saat puluhan remaja mengikuti Program Pendidikan Remaja Sebaya (PRAYA) Tahun 2026. Program ini mempertemukan anggota PMR Wira tingkat SMA/sederajat dari berbagai sekolah di Jakarta Utara dengan calon anggota Korps Sukarela (KSR) Unit Markas PMI Kota Jakarta Utara Angkatan Tahun 2026 dalam satu ruang belajar, satu semangat, dan satu tujuan, yakni membentuk relawan muda yang berkarakter, berpengetahuan, serta mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Kegiatan PRAYA 2026 sekaligus menjadi salah satu wujud nyata pemanfaatan hasil Bulan Dana PMI yang kembali diberikan kepada masyarakat dalam bentuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Melalui dukungan masyarakat yang telah berpartisipasi dalam Bulan Dana PMI, berbagai program pembinaan, pendidikan, dan pelatihan kepalangmerahan dapat terus dilaksanakan.
Dukungan tersebut turut memperkuat kapasitas anggota PMR di sekolah-sekolah se-Jakarta Utara sebagai investasi jangka panjang dalam membangun generasi muda yang peduli, tangguh, dan siap menjadi pelopor kemanusiaan.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Bidang Organisasi dan Relawan PMI Kota Jakarta Utara, Troy Aldi Pratama, didampingi Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Erna Cahyani, Kepala Markas Umar, serta Kepala Seksi PMR dan Relawan Riki Rusli, bersama para narasumber dan fasilitator yang mendampingi seluruh rangkaian pembelajaran.
Dalam sambutannya, Troy menegaskan bahwa PRAYA tidak dirancang sebagai pelatihan yang berhenti pada penyampaian materi semata. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian dari strategi pembinaan relawan muda PMI yang berkelanjutan dengan mempertemukan PMR Wira dan calon anggota KSR dalam satu proses pembelajaran.
“PMI ingin generasi muda memahami bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang memiliki keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kepedulian, keberanian mengambil peran, serta kemampuan menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan kepada masyarakat. PRAYA juga menjadi jembatan pembinaan agar semangat pengabdian seorang anggota PMR dapat terus berlanjut hingga menjadi relawan KSR,” ungkap Troy.
Melalui pendekatan tersebut, PMI Kota Jakarta Utara berupaya membangun kesinambungan pembinaan relawan. Semangat kemanusiaan diharapkan tidak berhenti ketika seorang anggota PMR menyelesaikan pendidikan di sekolah, tetapi dapat terus berkembang menjadi pengabdian yang lebih luas di tengah masyarakat melalui jenjang kerelawanan PMI.
Dalam pelaksanaannya, PRAYA 2026 mengangkat sejumlah tema yang dekat dengan kehidupan remaja, mulai dari komunikasi sebaya, promosi kesehatan, teknik berbicara di depan publik, implementasi Tri Bakti PMR, hingga pemahaman mengenai populasi rentan dan HIV/AIDS.
Materi disampaikan secara bertahap agar peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu memahami cara menyampaikan informasi kesehatan secara tepat sekaligus membangun sikap yang menghormati martabat setiap manusia.
Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah pembahasan mengenai kelompok rentan dalam situasi bencana. Melalui studi kasus, diskusi interaktif, dan refleksi bersama, peserta diajak memahami bahwa seorang relawan PMI memberikan pertolongan berdasarkan tingkat kebutuhan dan kerentanan seseorang, bukan berdasarkan latar belakang, agama, suku, status sosial, maupun kondisi kesehatan.
Nilai tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi nyata dari Prinsip-Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, yang menjadi landasan bagi setiap insan kepalangmerahan dalam menjalankan tugas kemanusiaan.
Selain proses pembelajaran, peserta juga mengikuti Pre-Test dan Post-Test sebagai bagian dari evaluasi peningkatan kompetensi. Lima peserta terbaik mendapatkan apresiasi berupa First Aid Kit sebagai bentuk penghargaan sekaligus simbol bahwa keterampilan pertolongan pertama perlu terus diasah dan dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Bagi calon anggota KSR Unit Markas PMI Kota Jakarta Utara Angkatan Tahun 2026, keikutsertaan dalam PRAYA juga menjadi bagian dari rangkaian Satuan Pendidikan dan Pelatihan (SATDIK) sebagai proses penguatan kapasitas sebelum mengikuti pelantikan pada Peringatan Hari Relawan Internasional, 26 Desember 2026.
Dengan demikian, proses pembentukan relawan tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga memperkuat kapasitas komunikasi, kepemimpinan, pendidikan sebaya, serta internalisasi nilai-nilai kemanusiaan.
PRAYA 2026 menjadi bukti bahwa setiap dukungan masyarakat melalui Bulan Dana PMI terus diwujudkan dalam berbagai program yang memberikan manfaat langsung bagi publik. Sebab, investasi terbesar organisasi kemanusiaan bukan semata-mata pada sarana dan prasarana, melainkan pada lahirnya generasi muda yang memiliki pengetahuan, karakter, empati, dan keberanian untuk menolong sesama.
Dari ruang kelas inilah, masa depan relawan PMI dipersiapkan. Dari pengetahuan tumbuh kepedulian, dari kepedulian lahir keberanian untuk beraksi, dan dari semangat kemanusiaan tumbuh generasi relawan yang siap hadir untuk sesama.(dayat)